Makhluk Tuhan Paling Mulia

  Banyak hal dalam hidup ini yang menjadi misteri besar.karna misteri itu itu akhirnya kita menjadikan segala sesuatu nya gampang tapi tanpa kita sadari itu menjebak kita dalam suatu kesulitan yang pada akhirnya menjadi sebuah penyesalan yang tak pernah kita mengerti.banyak persoalan di muka bumi ini yang akhirnya kita pandang dengan satu sudut pandang,sementara seharusnya kita cukup meletak kan persoalan itu dengan sudut pandang yang semestinya..

       Sewajarnya kalau persoalan agama kita pandang dari sudut pandang agama,semestinya pesoalan sosial kita pandang dari sudut pandang sosial dan seharusnya persoalan kemanusiaan kita pandang dari sudut pandang kemanusiaan,begitu juga kalau kita melihat persoalan keadilan harus dengan sudut pandang yang semestinya juga.

      kenapa kita selalu berpikir kalau bencana-bencana alam di negara kita ini selalu kita bilang bahwa itu adalah cobaan dari tuhan,apakah kita tidak pernah mencoba untuk melihat dari sudut pandang ilmu alam.apakah kita tidak tertarik untuk mengetahui struktur alam di negara kita ini,apakah belum cukup tahu kita dengan kerusakan yang sudah sedemikian parah nya dengan alam di negeri kita ini.penebangan hutan secara membabi buta.ekploitasi isi bumi yang tanpa memikirkan dampak yang akan di timbul kan dikemudian hari.atau apakah ini benar sebuah cobaan dari tuhan yang sering kita sebut maha pengasih lagi maha penyayang.yang sudah jelas-jelas kita baca sejarah di masa lampau bahwa,dimasa jahilia dimana manusia bertindak tidak ubahnya seperti binatang,kekacauan dimana-mana.berhala dan lain sebagainya di anggap tuhan yang melindungi mereka pada waktu itu.tapi apa yang di lakukan tuhan?apakah dia menghukum manusia yang tidak kenal perikemanusian dan keadilan itu dengan cobaan-cobaannya?tidak.tuhan malah menurun kan utusan nya untuk membawa manusia-manusia yang dianggap nya salah menuju jalan yang lurus.jalan yang semestinya di lalui oleh manusia yang sudah sangat jelas dikasih nya akal dan pikiran.untuk membuat manusia itu kembali ke martabatnya yaitu sebagai makhluk tuhan yang paling mulia di muka bumi ini.terus kenapa kita saat ini masih dengan gampang nya “menuduh” tuhan lagi mencoba umatnya dengan bencana alam yang sekarang sering terjadi.apa karena sekarang peradaban kita lebih parah dari zaman jahiliah itu?mari kita ulang renungi lagi.

Leave a comment »

Pengelana IV

 siang ini matahari terik sekali,cukup panas dan melelahkan badan kalau tetap melanjutkan perjalanan.sang pengelana memilih untuk mencari tempat istirahat melepas lelah setelah berjalan cukup lama.setelah berhenti sejenak sang pengelana melihat sekeliling dari tempatnyaberdiri,mencoba mencari-cari tempat yang teduh untuk beristirahat.tak lama sang pengelanamelihat pohon yang lumayan rindang dan berdiri kokoh di pinggir sungai yang airnya beningmengalir cukup deras.
   pengelana beranjak ke pohon rindang itu dan memilih tempat yang datar untuk duduk sambil selonjoran.sambil merebahkan badannya ke pohon pengelana mencoba menghirup udara yang sejuk untuk sedikit menyegarkan napas.tidak lama sang pengelanapun tertidur,dalam tidurnya sang pengelana bermimpi.mimpi tentang semua “keharusan” yang tidak tertulis dalam hidup yang dia jalani.harus berpendidikan,harus mendapat kerja yang “layak”,”harus” menikah,harus beragama,harus ini harus itu!!!
  sedikit ke gundahan mulai mengganggu tidur sang pengelana,karena kegelisahan dalam
tidurnya akhirnya sang pengelana terbangun.dan duduk menyandar ke batang pohon rindang itu,lama dia termenung mencoba memilah-milah mimpinya,kenapa semua keharusan itu “harus” dia jalani,apakah keharusan itu sebuah kewajiban mendasar dalam hidup.apakah seorang yang tidak berpendidikan,seorang yang tidak mendapatkan pekerjaan yang “layak”,seorang yang tidak menikah danpun seorang yang tidak beragama wajib disingkirkan dalam kehidupan ini,karena dia tidak menjalani keharusan-keharusan tadi.keraguan mulai menjalari diri sang pengelana,katakutan kalau tidak menjalani keharusan-keharusan itu sedikit membuat gusar sang pengelana.
  sang pengelana mulai bertanya kedirinya,apakah sanggup tetap diam di dalam “arus”keharusan,yang menerpa sedemikian kencang nya.kegigihan dan ketegaran hatinya sedikit mulai luluh karena memikirkan akibat dari tidak mengikuti keharusan dalam hidup.apakah mungkin dia sanggup hidup dalam keterasingan “sosial” dari masyarakat banyak.walaupun dia merasa orang yang tidak pernah merugikan orang lain
tapi benteng pertahanan dirinya tetap luluh di bawah arus pemikirannya sendiri.
  semakin lama kegundahan hatinya membuat sang pengelana merasa “gerah” dan mencoba untuk menenangkan dirinya,sang pengelana bangkit dan berjalan menuju pinggir sungai yang airnya jernih dan berarus yang cukup deras.sang pengelana coba membungkukkan badan nya untuk mengambil air guna mencuci mukanya.
waktu dia mengulurkan tangan nya hendak mengambil air,dia melihat sesuatu yang menarik.dia melihat wajahnya dari dalam air itu,terdiam dia melihat betapa wajahnya tetap diam walaupun arus di sungai itu cukup deras.sang pengelana menarik tangannya untuk bertumpu di pinggir sungai itu.dia coba sekali lagi pastikan bahwa wajahnya tidak bergerak sedikitpun diterjang oleh arus sungai yang deras.
  sesungging senyum keluar dari mulut sang pengelana,terlihat wajahnya tidak tegang lagi setelah memikirkan persoalan-persoalan yang membuat dia gundah gulana.terpancar kebahagian yang “spotanitas”muncul di wajah yang sedang di terjang arus sungai.sebuah pemikiran melintas di benak sang pengelana waktu melihat “bayangan”tetap kokoh tanpa terseret air sungai,kenapa dia harusmengikuti semua “arus” keharusan kalau dia bisa melihat dirinya,dia tau bentuk wajahnya,dan dia mengerti akan arti senyum nya.kalau bayangan nya bisa tidak hanyut dengan arus sungai yang deras,kenapa dia harus hanyut oleh “arus”keharusan dalam hidup,cukup dia hadapi dengan senyum dan biarkan mengalir seperti arus air lewat di depan wajah,sederas apapun arus itu menerjang,asal dia  tetap berpegang pada keyakinan dirinya
  sesaat sang pengelana diam membisu sebelum akhirnya melanjutkan untuk mencuci muka dari air sungai,yang terasa sejuk menghapus rasa “gerah” yang di akibatkan oleh cuaca dan perasaan hatinya.untuk menghilangkan dahaganya sang pengelana meminum air sungai,terasa air itu membasahi setiap persendian di dalam
tubuh sang pengelana.dan siap untuk melanjutkan perjalanan ke utara.perjalanan yang bukan sebuah keharusan tapi perjalanan yang berdasarkan sebuah keinginan.ringan terasa kaki sang pengelana berjalan menyongsong matahari yang mulai condong ke kaki langit.

Comments (1) »

Pengelana III

 Satu sore pengelana berjalan menyusuri pinggiran jalan menuju kota kadipaten
perut lapar sudah tidak tertahan kan,tapi sebuah pemandangan yang sedikit menarik perhatian membuat sang pengelana berhenti,dia melihat seekor kucing membawa sepotong ikan yang sudah dimasak,penasaran sang pengelana mengikuti kucing tersebut.ternyata kucing itu berjalan ke arah serombongan anak-anaknya yang sudah cukup senang melihat induk nya kembali membawa seekor ikan yang cukup besar,dengan senangnya anak-anak kucing tersebut berebutan untuk mengambil makanan yang sudah di bawain oleh induknya,lama terdiam sang pengelana asyik memperhatikan
anak-anak kucing itu rebutan mengambil makanan yang sudah di sediakan oleh ibunya.
  sedikit tersentak dari lamunan melihat para kucing,sang pengelana mendengar sayup-sayup suara ribut dari warung makan yang tidak jauh dari tempat dia berdiri.ternyata pemilik warung lagi marah-marah karena seekor ikannya yang sudah siap di sajikan buat pelanggan telah raib.sang pengelana memutar mukanya melihat sang pemilik warung yang lagi marah,dia membentakjuru masak nya yang sudah pasrah mengaku salah,”untung” seorang pengunjung memberitahukan kepada pemilik warung kalau dia melihat tadi ada seekor induk kucing berjalan membawa seekor ikan yang cukup besar.dan pengunjung itu menunjuk kearah sang pengelana berdiri
sambil mengatakan kalau induk kucing itu berjalan kearah tersebut.
  dengan geram sang pemilik warung mengambil sebuah kayu dan berjalan kearah sang pengelana,sambil berkata-kata yang tidak jelas sang pemilik warung terlihat berjalan dengan amarah yang sudah meluap.timbul sebuah perasaan yang sangat menakutkan di hati pengelana demi melihat para kucing itu akan menerima hukuman dari sang pemilik warung yang sudah merasa sangat di rugikan.terbayang bagaimana kalau kucing-kucing itu di pukul dengan kayu yang sudah di siapkan oleh pemilik rumah makan tersebut,tapi di satu sisi ada bisikan yang mengatakan kalau kucing itu memang wajar untuk mendapatkan hukuman tersebut,karena dia telah “mencuri”ikan dari rumah
makan tersebut,dan nyata-nyata kucing itu sudah merugikan sang pemilik rumah makan.
  antara ingin menolong sang kucing dan memikirkan kesalahan sang kucing sang pengelanapun diam tertegun,sebuah pertentangan bathin sangat kuat terjadi di dalam diri sang pengelana.sebagai manusia sang pengelana seharusnya bisa berpikiran jernih untuk tidak menghukum kucing tersebut yang notabene adalah binatang yang tidak mempunyai akal dan pikiran tapi disisi lain sang pengelana juga merasakan rasa amarah sang pemilik warung yang merasa sangat di rugikan oleh sang kucing,toh sang pemilik warung
juga berhak untuk menuntut sang “pencipta” kucing itu,kenapa harus menciptakan seekor kucing yang akhirnya merugikan dia.kenapa tidak menciptakan seekor kucing yang bisanya tidak mencuri.sang pengelana merasakan pemikiran tersebut sebuah pemikiran bodoh tapi hak manusia untuk tidak di rugikan oleh makhluk
laen di muka bumi ini selama manusia itu juga tidak merugikan makhluk lain.
 Akhirnya sebelum pemilik warung itu sampai sang pengelana memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya menuju utara,dia meninggalkan kucing yang “kemungkinan besar” bakal di hukum oleh pemilik warung tersebut,
Sang pengelana merasa tidak ada hak dia untuk ikut campur dalam “urusan” tersebut.kalau pun kucing itu harus di hukum biar lah pemilik warung itu yang memutusukan,kalaupun kucing itu tidak terima untuk di hukum
biar “sang pencipta”kucing itu yang membantu.hidup adalah rahasia “sang pencipta”dan rencana-rencana”sang pencipta”terhadap ciptaan nya biar sang pencipta sendiri yang memutuskan apakah itu pantas atau tidak.
  Gundah dihati tetap dibawa oleh sang pengelana dalam perjalanannya menuju utara,perjalanan yang masih cukup jauh masih terpampang jelas di depan mata,tapi utara adalah arah yang tetap diambil oleh sang pengelana.

Comments (2) »

Pengelana II

Hari mulai sore sang pengelana melanjutkan perjalanannya menuju utara
setelah semalaman berjalan akhir nya sang pengelana melihat sebuah per
kampungan yang makmur,dan si pengelana berjalan menuju kampung
itu.sesampainya disana pengelana melihat sebatang potong yang rindang
dia mencoba istirahat dibaah pohon itu,tidak jauh dari pohon itu
ada sebuah rumah yang bagus,terlihat juga sepasang suami istri
pemilik rumah itu berdiri di beranda depan.
 Karena jarak rumah dengan pohon tidak terlalu jauh,terdengar jelas suara
suami istri itu lagi bercengkrama,sang pengelana melanjutkan istirahatnya
sambil duduk malas-malasan dibawah pohon yang rindang dan sejuk karena
sapuan sepoi angin.
 Tidak berapa lama kemudian terdengar suara sepasang suami istri itu
semakin tinggi dan dinaungi rasa emosi.terdengar jelas bagai mana si istri
yang menginginkan sang suami untuk memahami nya,sang istri berkata kalau dia
ingin punya pasangan yang bisa mengerti dengan dirinya,seorang suami yang tidak
cemburuan dan posesif dan sang suami yang bisa mengikuti kamauannya.
 Begitu juga sang suami sangat ngotot untuk di pahami,dimaklumi kalau dia sudah
capek untuk mencari materi buat kelurga.dan sang suami juga berkata dia sangat
mengingin kan pendamping yaitu seorang istri yang bisa memahami akan dirinya,
seorang istri yang tidak cuma bisanya menuntut tapi juga mengerti akan kesibukan
hari-harinya.
 Lama terdiam akhirnya sang pengelana menghampiri sepasang suami istri itu,dan
sang pengelana bertanya kepasa sepasang suami istri itu “kenapa kalian ribut,
bukankah kalian adalah keluarga yang sudah berkecukupan,apalagi yang kalian
inginkan?”…
  Terkejut sang istri menjawab “saya ingin punya pasangan yang bisa memahami diri
saya”.dengan cepat sang suami juga menjawab “begitu juga saya,ingin punya istri
yang bisa memahami siapa diri saya”…
  Selanjutnya sang pengelana berkata lagi “itu adalah hal yang mudah kalau kalian
tau cara untuk dipahami dan akan menjadi persoalan yang sulit kalau kalian tidak
sadari”.
 Sepasang suami istri itu saling berpandangan mendengar jawaban sang pengelana,
dan serentak merak bertanya”apa maksud saudara”…
 Dengan sedikit senyum sang pengelana berkata “sebelum menjawab pertanyaan kalian,
saya ingin bertnya satu hal”…
  semakin bingung sepasang suami istri itu menjawab “boleh”…
sang pengelana bertanya”apakah kalian mengerti,memahami siapa dan apa diri kalian ini
sebenarnya?”…
  Sepasang suami istri itu menjawab “saya…saya…”tapi tidak satu pun yang bisa
menjawab siapa dan apa akan dirinya.
  Sang pengelana pun sambil tertawa menjawab “Bagaimana kalian mau minta di pahami
kalau kalian sendiri tidak paham akan diri kalian,dan tidak mengerti dengan kemauan
kalian”..
  “Terus bagaimana caranya biar saya bisa di pahami pasangan”si istri bertanya dengan
wajah yang masih bingung.
  “Berusaha untuk memahami pasangan dan bukan minta untuk dipahami akan membuat pasangan semakin memahami kita,buang rasa egois kita,disamping kita harus tau dengan
keinginan-keinginan kita sendiri”..
 Sepasang suami istri itu terdiam mendengar omongan sang pengelana yang telah
melangkahkan kakinya untuk melanjutkan perjalanan menuju utara,tampak senyum menghiasi muka sang pengelana…
 

Comments (4) »

Pengelana I

  Pengelana berjalan seorang diri di tengah hutan rimba belantara menuju utara,
di perjalan dia melihat seekor burung yang terluka sayap nya dan disaat itu juga
perutnya terasa sangat lapar.timbul pertentangan di hatinya antara rasa ingin
menolong dan rasa lapar yang mendera,antar rasa kemanusiaan dan naluri untuk 
bertahan hidup terus berperang di dalam hati si pengelana.
 Lama terdiam bingung untuk mengambil sikap,semetara di hutan tidak ada siapapun
diri sendiri yang harus berpikir untuk melakukan tindakan yang dianggap benar.
akhirnya dia memutuskan untuk menagkap burung itu dan memakannya…
 Siapa yang bisa menjamin kalau membantu burung itu hidup akan membuat kehidupannya
lebih baik,dan siapa yang bisa menjamin kalau memakan daging burung itu bukanlah sebuah
perbuatan yang membantu,mungkin saja dengan membunuh nya akan melepaskan dirinya
dari ke malangan yang menimpanya,dan mungkin kematian adalah sebuah awal dari
kehidupan yang indah untuk sang burung itu “toh dimakan juga halal”
 tidak ada yang bisa menebak masa depan dan apa gunanya untuk meraih masa depan,
yang ada cuman misteri untuk mejalankan hari-hari kedepan.
  Akhirnya si pengelana tertidur dalam istirahat yang tenang untuk menyiap kan
perjalanan panjang menuju utara….

Comments (2) »

Free Area !!!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Comments (2) »