siang ini matahari terik sekali,cukup panas dan melelahkan badan kalau tetap melanjutkan perjalanan.sang pengelana memilih untuk mencari tempat istirahat melepas lelah setelah berjalan cukup lama.setelah berhenti sejenak sang pengelana melihat sekeliling dari tempatnyaberdiri,mencoba mencari-cari tempat yang teduh untuk beristirahat.tak lama sang pengelanamelihat pohon yang lumayan rindang dan berdiri kokoh di pinggir sungai yang airnya beningmengalir cukup deras.
pengelana beranjak ke pohon rindang itu dan memilih tempat yang datar untuk duduk sambil selonjoran.sambil merebahkan badannya ke pohon pengelana mencoba menghirup udara yang sejuk untuk sedikit menyegarkan napas.tidak lama sang pengelanapun tertidur,dalam tidurnya sang pengelana bermimpi.mimpi tentang semua “keharusan” yang tidak tertulis dalam hidup yang dia jalani.harus berpendidikan,harus mendapat kerja yang “layak”,”harus” menikah,harus beragama,harus ini harus itu!!!
sedikit ke gundahan mulai mengganggu tidur sang pengelana,karena kegelisahan dalam
tidurnya akhirnya sang pengelana terbangun.dan duduk menyandar ke batang pohon rindang itu,lama dia termenung mencoba memilah-milah mimpinya,kenapa semua keharusan itu “harus” dia jalani,apakah keharusan itu sebuah kewajiban mendasar dalam hidup.apakah seorang yang tidak berpendidikan,seorang yang tidak mendapatkan pekerjaan yang “layak”,seorang yang tidak menikah danpun seorang yang tidak beragama wajib disingkirkan dalam kehidupan ini,karena dia tidak menjalani keharusan-keharusan tadi.keraguan mulai menjalari diri sang pengelana,katakutan kalau tidak menjalani keharusan-keharusan itu sedikit membuat gusar sang pengelana.
sang pengelana mulai bertanya kedirinya,apakah sanggup tetap diam di dalam “arus”keharusan,yang menerpa sedemikian kencang nya.kegigihan dan ketegaran hatinya sedikit mulai luluh karena memikirkan akibat dari tidak mengikuti keharusan dalam hidup.apakah mungkin dia sanggup hidup dalam keterasingan “sosial” dari masyarakat banyak.walaupun dia merasa orang yang tidak pernah merugikan orang lain
tapi benteng pertahanan dirinya tetap luluh di bawah arus pemikirannya sendiri.
semakin lama kegundahan hatinya membuat sang pengelana merasa “gerah” dan mencoba untuk menenangkan dirinya,sang pengelana bangkit dan berjalan menuju pinggir sungai yang airnya jernih dan berarus yang cukup deras.sang pengelana coba membungkukkan badan nya untuk mengambil air guna mencuci mukanya.
waktu dia mengulurkan tangan nya hendak mengambil air,dia melihat sesuatu yang menarik.dia melihat wajahnya dari dalam air itu,terdiam dia melihat betapa wajahnya tetap diam walaupun arus di sungai itu cukup deras.sang pengelana menarik tangannya untuk bertumpu di pinggir sungai itu.dia coba sekali lagi pastikan bahwa wajahnya tidak bergerak sedikitpun diterjang oleh arus sungai yang deras.
sesungging senyum keluar dari mulut sang pengelana,terlihat wajahnya tidak tegang lagi setelah memikirkan persoalan-persoalan yang membuat dia gundah gulana.terpancar kebahagian yang “spotanitas”muncul di wajah yang sedang di terjang arus sungai.sebuah pemikiran melintas di benak sang pengelana waktu melihat “bayangan”tetap kokoh tanpa terseret air sungai,kenapa dia harusmengikuti semua “arus” keharusan kalau dia bisa melihat dirinya,dia tau bentuk wajahnya,dan dia mengerti akan arti senyum nya.kalau bayangan nya bisa tidak hanyut dengan arus sungai yang deras,kenapa dia harus hanyut oleh “arus”keharusan dalam hidup,cukup dia hadapi dengan senyum dan biarkan mengalir seperti arus air lewat di depan wajah,sederas apapun arus itu menerjang,asal dia tetap berpegang pada keyakinan dirinya
sesaat sang pengelana diam membisu sebelum akhirnya melanjutkan untuk mencuci muka dari air sungai,yang terasa sejuk menghapus rasa “gerah” yang di akibatkan oleh cuaca dan perasaan hatinya.untuk menghilangkan dahaganya sang pengelana meminum air sungai,terasa air itu membasahi setiap persendian di dalam
tubuh sang pengelana.dan siap untuk melanjutkan perjalanan ke utara.perjalanan yang bukan sebuah keharusan tapi perjalanan yang berdasarkan sebuah keinginan.ringan terasa kaki sang pengelana berjalan menyongsong matahari yang mulai condong ke kaki langit.
Pengelana IV
1 Tanggapan sejauh ini »
RSS Komentar · URI Lacak Balik
denny berkata,
September 23, 2007 @ 8:47 am
Ternyata si pengelana masih bingung juga ya
kirain sih sipengelana udah selesai dengan masalah dirinya
rupanya si pengelana sedang mencari…
“Hanya yang mencari yg mendapatkan”