Hari mulai sore sang pengelana melanjutkan perjalanannya menuju utara
setelah semalaman berjalan akhir nya sang pengelana melihat sebuah per
kampungan yang makmur,dan si pengelana berjalan menuju kampung
itu.sesampainya disana pengelana melihat sebatang potong yang rindang
dia mencoba istirahat dibaah pohon itu,tidak jauh dari pohon itu
ada sebuah rumah yang bagus,terlihat juga sepasang suami istri
pemilik rumah itu berdiri di beranda depan.
Karena jarak rumah dengan pohon tidak terlalu jauh,terdengar jelas suara
suami istri itu lagi bercengkrama,sang pengelana melanjutkan istirahatnya
sambil duduk malas-malasan dibawah pohon yang rindang dan sejuk karena
sapuan sepoi angin.
Tidak berapa lama kemudian terdengar suara sepasang suami istri itu
semakin tinggi dan dinaungi rasa emosi.terdengar jelas bagai mana si istri
yang menginginkan sang suami untuk memahami nya,sang istri berkata kalau dia
ingin punya pasangan yang bisa mengerti dengan dirinya,seorang suami yang tidak
cemburuan dan posesif dan sang suami yang bisa mengikuti kamauannya.
Begitu juga sang suami sangat ngotot untuk di pahami,dimaklumi kalau dia sudah
capek untuk mencari materi buat kelurga.dan sang suami juga berkata dia sangat
mengingin kan pendamping yaitu seorang istri yang bisa memahami akan dirinya,
seorang istri yang tidak cuma bisanya menuntut tapi juga mengerti akan kesibukan
hari-harinya.
Lama terdiam akhirnya sang pengelana menghampiri sepasang suami istri itu,dan
sang pengelana bertanya kepasa sepasang suami istri itu “kenapa kalian ribut,
bukankah kalian adalah keluarga yang sudah berkecukupan,apalagi yang kalian
inginkan?”…
Terkejut sang istri menjawab “saya ingin punya pasangan yang bisa memahami diri
saya”.dengan cepat sang suami juga menjawab “begitu juga saya,ingin punya istri
yang bisa memahami siapa diri saya”…
Selanjutnya sang pengelana berkata lagi “itu adalah hal yang mudah kalau kalian
tau cara untuk dipahami dan akan menjadi persoalan yang sulit kalau kalian tidak
sadari”.
Sepasang suami istri itu saling berpandangan mendengar jawaban sang pengelana,
dan serentak merak bertanya”apa maksud saudara”…
Dengan sedikit senyum sang pengelana berkata “sebelum menjawab pertanyaan kalian,
saya ingin bertnya satu hal”…
semakin bingung sepasang suami istri itu menjawab “boleh”…
sang pengelana bertanya”apakah kalian mengerti,memahami siapa dan apa diri kalian ini
sebenarnya?”…
Sepasang suami istri itu menjawab “saya…saya…”tapi tidak satu pun yang bisa
menjawab siapa dan apa akan dirinya.
Sang pengelana pun sambil tertawa menjawab “Bagaimana kalian mau minta di pahami
kalau kalian sendiri tidak paham akan diri kalian,dan tidak mengerti dengan kemauan
kalian”..
“Terus bagaimana caranya biar saya bisa di pahami pasangan”si istri bertanya dengan
wajah yang masih bingung.
“Berusaha untuk memahami pasangan dan bukan minta untuk dipahami akan membuat pasangan semakin memahami kita,buang rasa egois kita,disamping kita harus tau dengan
keinginan-keinginan kita sendiri”..
Sepasang suami istri itu terdiam mendengar omongan sang pengelana yang telah
melangkahkan kakinya untuk melanjutkan perjalanan menuju utara,tampak senyum menghiasi muka sang pengelana…
Pengelana II
4 Tanggapan sejauh ini »
RSS Komentar · URI Lacak Balik
kangtutur berkata,
Agustus 15, 2007 @ 3:09 am
Memahami itu Memberi Perhatian, bukan Meminta Perhatian
“Memberi” adalah Rahasia Sukses Terbesar
Denny H.Piliang berkata,
Agustus 15, 2007 @ 6:27 am
Yo bijaksana bona pengelana ge yieh…
mungkin pabgelana harus memberikan contah2 atau ilustrasi2 tentang memahami diri sendiri dan memahami orang lain.
keliatannya suami istri itu masih bingung dengan apa yg dimaksud pengelana.
Maklum…suami istri itu kan orang kampung bodoh yang belum tau apa2.
SëRAK berkata,
Agustus 15, 2007 @ 8:24 am
Wah, ngetop Nih
Masuek Top Post
Wahyudi berkata,
Agustus 29, 2007 @ 12:04 pm
suami istri bingung dengan nasihat si pengelana karena harus memahami fiksi dan filsafat secara bersamaan, kali…..